Created by Ariful Yuga
🛢️ Minyak, Duit, dan Drama Pertamina: Cerita yang Terasa di Pompa tapi Gak Pernah Kelar
Pembuka
Jakarta pagi-pagi. Matahari udah nongol, udara penuh karbon, dan antrean di SPBU lebih panjang dari antrian CPNS.Seseorang di mobilnya nyeletuk pelan:
“Kenapa ya harga BBM bisa naik lagi, padahal yang kena panas kita juga?”Pertanyaan sederhana, tapi jawabannya lebih rumit dari perasaan pas mantan bilang “kita temenan aja.”
Kasus ini, bro, udah kayak minyak tumpah — susah dibersihin, licin, dan baunya gak ilang-ilang meskipun udah ganti pemerintahan.
Pertamina — dari kebanggaan bangsa jadi sinetron prime time
Dulu katanya Pertamina simbol kemandirian energi, sekarang malah lebih mirip drama Korea 100 episode: pemeran banyak, endingnya gak jelas, dan plot twist tiap bulan.Tender impor minyak? Gonta-ganti kayak tren filter TikTok.
Harga naik? Alasan klasik: “stabilisasi ekonomi global.”
Tapi kenyataannya, yang stabil cuma rasa capek rakyat tiap isi bensin.
Di laporan resmi, ada “ketidaksesuaian angka” alias duit raib entah ke mana.
Ratusan triliun, bro.
Itu jumlah yang cukup buat bikin seluruh warga Indonesia dapet powerbank gratis biar gak kehabisan baterai ngeluh di medsos.
Minyak, tapi rasanya kayak air mata rakyat
Katanya impor minyak itu demi kestabilan.Tapi heran, kenapa yang paling stabil malah cuma inflasi dan sabar rakyat.
Negara kaya sumber daya, tapi tiap kali ditanya cadangan energi, jawabannya kayak mahasiswa ngejelasin skripsi:
“Sebenarnya bisa, tapi belum sempat…”Dan pas publik nanya “duitnya ke mana?”, jawaban khas pun keluar:
“Kita sedang melakukan penyelidikan internal.”Yang kalau diterjemahkan ke bahasa jujur artinya: “Tenang aja, nanti juga lupa.”
Tokoh-tokoh misterius — muncul di berita, hilang di kenyataan
Seperti karakter figuran di film Marvel, mereka muncul lima menit, lalu gak pernah nongol lagi.Ada pejabat, pengusaha, mantan direksi, semua sempat jadi trending, tapi sekarang entah di mana.
Yang lebih plot twist lagi, katanya ini skandal lintas negara — ada yang nyangkut ke Singapura, ada aroma Dubai.
Tapi di lapangan, yang paling tercium cuma... bau bensin mahal dan janji murahan.
Politik dan minyak — pasangan toksik sejak dulu
Minyak tuh romantis banget buat politisi.Tiap pemilu, selalu ada janji soal “subsidi tepat sasaran” atau “kedaulatan energi.”
Padahal yang tepat sasaran cuma kenaikan harga, dan yang berdaulat cuma mereka yang tanda tangan proyek.
Lucunya, yang katanya “subsidi membebani negara” justru gak bilang kalau rakyat juga punya beban yang sama — cuma bedanya, rakyat gak bisa reimburse.
Investigasi lambat, hasilnya kabur
Udah dibentuk Satgas, tim khusus, komisi, pokja, dewan, mungkin nanti tinggal kurang “sub-komite pengawasan untuk tim pengawasan.”Tiap diumumkan, rakyat semangat.
Tapi setelah beberapa minggu, semua berasa kayak episode filler Naruto — rame di awal, gak ada hasil di akhir.
“Proses hukum sedang berjalan,” katanya.
Padahal di sini “sedang berjalan” itu sering artinya “nunggu bosnya pindah jabatan dulu.”
Efek domino — dari bensin sampai cilok depan gang
BBM naik dikit, efeknya merembet ke mana-mana.Harga ojek naik, cabe naik, bahkan tukang cilok yang tadinya jual Rp1.000 jadi Rp1.500, dan alasannya simpel:
“Bang, minyak goreng juga naik, bang.”Ironinya, yang kena imbas malah rakyat yang gak punya saham di Pertamina, gak ngerti tender, dan gak pernah tahu berapa liter minyak bisa bikin Rp193 triliun menguap.
Negara ini katanya “berdaulat energi,” tapi tiap kapal impor telat datang, semua panik.
Mirip hubungan toxic — kita tahu dia nyakitin, tapi gak bisa move on.
Rakyat jelata — penonton setia serial panjang ini
Kita ini penonton setia, bro.Dari zaman Orde Lama sampai Orde Instagram, kita udah nonton berbagai versi “drama minyak nasional.”
Setiap kali ada bab baru, endingnya selalu sama:
“Kasus masih diselidiki.”Kita protes? Bikin meme, bikin tagar, bikin thread.
Tapi sistemnya kayak tembok kampus jurusan hukum — tebal banget dan gak bisa ditembus cuma pake logika.
Kalau minyak bisa ngomong...
Mungkin dia bakal bilang:“Bro, gue udah capek diperah tanpa kejelasan. Kalau lo cinta, tolong jujur dikit aja.”Minyak aja pengen hubungan yang transparan, tapi pejabatnya malah ngilang kayak tabungan di tanggal tua.
Epilog dari negeri penuh aroma bensin
Kasus ini masih berjalan.Uangnya katanya bakal dikembalikan.
Pelakunya katanya bakal ditindak.
Dan kita semua tahu, “katanya” di negeri ini punya masa kadaluarsa cepat banget.
Tapi yaudah, kita kan warga optimis —
Optimis bahwa suatu hari nanti, BBM turun, korupsi hilang, dan rakyat bisa isi bensin tanpa mikir cicilan.
Meskipun kemungkinan itu mungkin sekecil kesempatan nemu sandal kanan lo yang hilang waktu salat Jumat.
Penutup
Jadi ya, sampai sekarang minyak masih ngalir, duit masih muter, dan kita masih ngantri di SPBU sambil mikir:“Siapa sih yang sebenernya paling untung?”Jawabannya?
Bukan rakyat, bukan negara.
Tapi entah siapa, yang dompetnya makin tebal — tanpa harus kena panas matahari di pom bensin.
Komentar
Created by Rio Ilham Hadi, S.Kom (WWW.BLANTERMEDIA.COM) - 0888-8905-441
