MaF4NWp4LGJ9NWt5NGJ7MaJbBncsymIoxmYhwCNc
Banjir Meluas di Sumatera, Warga Selamatkan Diri Saat Negara Sibuk Berjanji
Created by Ariful Yuga

Banjir Meluas di Sumatera, Warga Selamatkan Diri Saat Negara Sibuk Berjanji



Air datang tanpa aba-aba. Negara datang dengan pernyataan. Dalam hitungan hari, bencana meluas di tiga provinsi Sumatera. Sungai meluap, rumah tenggelam, ribuan orang mengungsi. Pemerintah menyatakan siaga, lalu sibuk memastikan kamera siap. Di lapangan, warga kembali belajar satu pelajaran lama: dalam setiap bencana, yang paling konsisten hadir adalah kata “akan”.

Ketika Hujan Lebih Sigap dari Negara

Hujan turun seperti sudah lama menunggu giliran. Bukan hujan biasa—ia turun dengan dendam yang dikumpulkan dari hutan yang digunduli, rawa yang ditimbun, dan drainase yang disumbat oleh rencana pembangunan setengah matang. Sungai naik pangkat dari aliran air menjadi ancaman publik.

Warga berlarian menyelamatkan diri. Dokumen lebih dulu diselamatkan daripada televisi. Ijazah lebih penting dari lemari. Pengalaman mengajarkan, banjir bisa surut, tapi urusan administrasi bisa menenggelamkan seumur hidup.

Peringatan dini katanya ada. Tapi ia seperti kebijakan publik lain: tertulis rapi di laporan, samar di kenyataan. Sirene kalah cepat dari arus. Pesan singkat kalah cepat dari air.

Negara Hadir di Podium

Pagi berikutnya, negara hadir dengan atribut lengkap. Konferensi pers digelar. Status darurat diumumkan. Angka korban dibacakan seperti laporan cuaca.

“Pemerintah bergerak cepat,” ujar seorang pejabat.

Di pengungsian, warga mendengar sambil mengantre air bersih. Anak-anak tidur di lantai sekolah yang atapnya bocor. Lansia duduk diam, menunggu obat dan kabar. Gen Z menyalakan kamera ponsel. Mereka paham satu hal: tanpa bukti visual, penderitaan sering dianggap cerita berlebihan.

Bantuan Turun, Akal Sehat Tertinggal

Logistik mulai berdatangan. Mi instan, air mineral, selimut. Semua penting, semua berguna. Tapi distribusi berjalan seperti kuis berhadiah: siapa cepat, dia dapat.

Di satu titik, bantuan menumpuk. Di titik lain, warga hanya kebagian kabar bahwa bantuan “sedang dalam perjalanan”. Bayi diberi mi instan. Ibu diberi harapan.

Koordinasi disebut sebagai kendala. Kata aman yang bisa menutupi apa saja. Artinya sederhana: menunggu perintah, menunggu tanda tangan, menunggu pejabat datang untuk memastikan lokasi layak difoto.

Sepatu Bot Bersih dan Janji Kotor

Helikopter mendarat. Pejabat turun dengan sepatu bot yang masih berkilau. Lumpur disentuh sebentar, cukup untuk dokumentasi. Wajah prihatin dipasang, sudut kamera dipilih.

Pidato singkat digelar di tengah genangan. Janji panjang dilontarkan.

Akan dievaluasi. Akan dipercepat. Akan diperbaiki.

Kata “akan” kembali jadi komoditas paling stabil di negeri bencana. Tidak tergerus inflasi, tidak terpengaruh cuaca.

Relawan Bekerja, Negara Menghitung

Di saat pejabat berpindah lokasi, relawan menetap. Mahasiswa, komunitas lokal, organisasi kemanusiaan. Mereka memasak, membersihkan lumpur, mendata korban. Tanpa spanduk. Tanpa rompi mahal.

Gotong royong versi mutakhir ini bekerja dengan prinsip sederhana: siapa bisa, dia bantu. Tidak perlu surat tugas. Tidak perlu konferensi pers.

Sementara itu, negara sibuk menghitung. Menghitung kerusakan. Menghitung kerugian. Menghitung anggaran. Menghitung risiko politik. Semua perlu, kata mereka. Warga juga menghitung: hari tanpa listrik, malam tanpa tidur, dan janji tanpa kepastian.

Alam Dijadikan Tersangka Utama

Narasi resmi mulai rapi. Cuaca ekstrem. Curah hujan tinggi. Faktor alam.

Alam kembali duduk di kursi pesakitan. Hutan gundul absen dari dakwaan. Tata ruang amburadul hanya disebut sekilas. Izin pembangunan tetap bersih dari noda.

Di media sosial, Rakyat membedah kebijakan seperti bedah skripsi. Mereka menyebut pasal, anggaran, dan janji lama. Mereka tidak anti-negara. Mereka anti-dipermainkan.

Kamera Pergi, Masalah Bertahan

Sorotan media meredup. Bantuan ikut menyusut. Penyakit kulit mulai menyerang. ISPA mengintai. Sekolah belum jelas kapan dibuka. UMKM tenggelam bukan hanya oleh air, tapi oleh sepi.

Pemerintah pusat dan daerah saling menunggu. Siapa bertanggung jawab apa. Surat menyurat berjalan. Waktu berjalan lebih cepat.

Seorang anak muda menulis di media sosial: “Banjirnya ekspres, pemulihannya ekonomi.”


Rehabilitasi Versi PowerPoint

Rencana rehabilitasi diumumkan. Angka besar disebut. Grafik ditampilkan. Timeline optimistis dipajang.

Warga membaca sambil mengingat pengalaman lama. Dokumen indah sering berakhir sebagai arsip. Pertanyaan sederhana muncul: apakah warga dilibatkan? Apakah rumah baru dekat sekolah dan tempat kerja? Atau sekadar rapi di laporan?

Satir kembali bekerja: “Kami siap direlokasi, asal bukan direlokasi dari daftar penerima bantuan.”

Negara yang Rajin Berjanji

Dalam setiap bencana, negara selalu rajin berjanji. Janji memperbaiki tata ruang. Janji memperkuat peringatan dini. Janji menindak pelanggar.

Janji-janji itu terdengar familiar. Seperti lagu lama yang diputar ulang setiap musim hujan.

Warga mulai hafal liriknya.

Setengah Pulih, Setengah Percaya

Hari ini, sebagian wilayah mulai bangkit. Air surut. Jalan darurat dibuka. Bantuan masih ada, meski tidak seramai awal.

Ada pejabat yang bekerja sungguh-sungguh. Itu harus diakui. Tapi sistem tetap lambat. Transparansi masih kabur. Evaluasi sering berhenti di wacana.

Kredibilitas pemerintah diuji bukan oleh pidato, tapi oleh konsistensi. Bukan oleh spanduk, tapi oleh hasil.

Alarm Terakhir

Tulisan ini bukan kebencian. Ini peringatan. Karena bahasa resmi terlalu sopan untuk luka yang nyata.

Rakyat Sumatera tidak menuntut mukjizat. Mereka hanya ingin respons cepat, jujur, dan berpihak.

Jika bencana adalah ujian, maka tata kelola adalah jawabannya. Dan sampai hari ini, jawabannya masih ditunda. 
Created by Rio Ilham Hadi, S.Kom (WWW.BLANTERMEDIA.COM) - 0888-8905-441

Komentar

Contact Us via Whatsapp